Pernah nggak sih, Parents merasa gagal jadi orang tua cuma gara-gara hal sepele? Misalnya, lupa membawakan bekal anak, nggak sengaja membentak saat lelah pulang kerja, atau merasa insecure melihat postingan teman di Instagram yang sepertinya hidupnya sempurna banget? Di era media sosial ini, tekanan untuk menjadi orang tua yang “sempurna” rasanya makin gila-gilaan. Kita dituntut untuk jadi koki handal, guru les privat, psikolog anak, sekaligus penyedia fasilitas terbaik, termasuk pontang-panting mencari sekolah internasional jakarta yang paling bergengsi demi masa depan si Kecil.
Tapi, tahukah Parents? Mengejar kesempurnaan dalam mengasuh anak itu sebenarnya misi yang mustahil. Bahkan, dalam dunia psikologi, menjadi orang tua yang sempurna itu justru dianggap tidak sehat bagi perkembangan mental anak. Lho, kok bisa?
Di sinilah kita perlu kenalan sama konsep “Good Enough Parent” atau “Orang Tua yang Cukup Baik”. Konsep ini bukan pembenaran untuk jadi orang tua yang malas atau abai, lho ya. Tapi ini adalah sebuah pendekatan yang jauh lebih manusiawi, realistis, dan justru terbukti mencetak anak-anak yang lebih tangguh. Yuk, kita bedah bareng-bareng kenapa menjadi “biasa saja” itu kadang justru luar biasa.
Asal Usul Konsep “Good Enough Parent”
Istilah ini sebenarnya bukan barang baru. Konsep ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1953 oleh seorang dokter anak dan psikoanalis asal Inggris yang legendaris, Donald Winnicott.
Winnicott mengamati ribuan interaksi ibu dan bayi. Kesimpulannya cukup mengejutkan: bayi dan anak-anak sebenarnya tidak butuh orang tua yang 100% responsif tanpa celah. Orang tua yang terlalu sempurna—yang selalu memenuhi keinginan anak bahkan sebelum anak itu sempat menangis atau merasa tidak nyaman—justru bisa menghambat pertumbuhan anak.
Kenapa? Karena dunia nyata itu tidak sempurna. Kalau di rumah anak diperlakukan bak raja yang tidak pernah merasakan sedikit pun kekecewaan, mereka akan shock berat saat masuk ke dunia luar (sekolah atau lingkungan bermain) di mana tidak semua keinginan mereka bisa terpenuhi secara instan.
Jadi, Good Enough Parent adalah orang tua yang menyadari bahwa kegagalan-kegagalan kecil dalam pengasuhan (seperti telat bikin susu, sesekali marah, atau tidak bisa membelikan mainan mahal) adalah bagian alami dari proses belajar anak untuk menghadapi realita kehidupan.
Bahaya Tersembunyi dari Perfeksionisme
Coba bayangkan Parents adalah seorang pelari marathon yang tidak boleh berhenti sedetik pun. Lelah, kan? Nah, mengejar kesempurnaan itu ibarat mengejar bayangan sendiri; semakin kencang kita berlari, semakin ia tak terkejar dan justru membuat kita kehabisan napas. (Majas Simile).
Ketika kita terobsesi jadi sempurna, ada beberapa dampak negatif yang mungkin nggak kita sadari:
- Anak Menjadi Cemas (Anxiety Transfer) Anak itu peniru ulung. Kalau mereka melihat orang tuanya stres karena harus selalu tampil sempurna, anak akan menyerap kecemasan itu. Mereka akan tumbuh dengan mindset: “Aku tidak boleh salah. Kalau aku salah, aku tidak dicintai.” Ini bahaya banget buat kesehatan mental mereka di masa depan.
- Menghambat Kemandirian Orang tua perfeksionis biasanya cenderung micromanage. Apa-apa diurusin, apa-apa diberesin, karena nggak tahan melihat ada yang “berantakan”. Akibatnya, anak jadi tidak punya kesempatan untuk memecahkan masalahnya sendiri (problem solving).
- Hubungan yang Kaku Hubungan orang tua dan anak yang sehat itu butuh otentisitas. Kalau kita selalu pasang topeng “Mama/Papa Super”, anak nggak akan kenal sisi manusiawi kita. Mereka butuh tahu bahwa orang tuanya juga bisa sedih, bisa capek, dan bisa minta maaf.
Prinsip 70/30: Rumus Menjadi “Cukup Baik”
Ada riset menarik lainnya dari Ed Tronick dengan eksperimen “Still Face”. Penelitian modern yang mengembangkan konsep ini sering menyebut bahwa dalam hubungan yang sehat, interaksi yang “sempurna” atau selaras (attuned) itu hanya terjadi sekitar 30% dari waktu.
Sisa 70%-nya? Isinya adalah ketidakselarasan (miss-attunement), konflik kecil, kesalahpahaman, dan—ini yang paling penting—perbaikan (repair).
Jadi, menjadi Good Enough Parent itu bukan berarti kita tidak pernah salah. Kuncinya ada di Repair atau memperbaiki hubungan.
Contoh kasus: Parents pulang kerja capek banget, terus anak rewel minta main. Tanpa sadar Parents membentak, “Diam dulu dong! Papa/Mama pusing nih!”
- Orang Tua Perfeksionis: Akan merasa bersalah berhari-hari, merasa gagal, lalu memanjakan anak berlebihan sebagai kompensasi, atau malah menyangkal kejadian itu.
- Good Enough Parent: Menyadari kesalahannya, menenangkan diri, lalu datang ke anak dan bilang, “Maaf ya, Nak. Tadi Papa/Mama membentak bukan karena nggak sayang kamu, tapi karena Papa/Mama capek banget. Papa/Mama salah sudah bicara kasar. Kita baikan ya?”
Proses rupture and repair (rusak dan perbaiki) inilah yang mengajarkan anak tentang empati, memaafkan, dan bahwa hubungan itu dinamis tapi tetap aman.
Relevansi dengan Pendidikan dan Pemilihan Sekolah
Pola pikir Good Enough ini juga sangat relevan saat kita bicara soal pendidikan. Banyak orang tua di Jakarta yang stres luar biasa saat memilih sekolah. Ada ketakutan FOMO (Fear of Missing Out) kalau anaknya tidak masuk ke sekolah internasional terbaik, masa depannya bakal suram.
Padahal, data menunjukkan bahwa kesuksesan anak tidak melulu ditentukan oleh seberapa mahal atau seberapa “elite” label sekolahnya, melainkan seberapa suportif lingkungan sekolah tersebut terhadap karakter unik si anak.
Saat mencari sekolah, termasuk ketika hunting sekolah internasional di Jakarta, cobalah ganti kacamata “Kesempurnaan” dengan kacamata “Kecocokan”.
- Apakah sekolah ini memanusiakan siswa?
- Apakah guru-gurunya paham bahwa tiap anak punya kecepatan belajar berbeda?
- Apakah lingkungan sekolahnya mengizinkan anak untuk berbuat salah dan belajar dari kesalahan itu?
Sekolah yang baik adalah perpanjangan tangan dari prinsip Good Enough Parent. Mereka tidak menuntut murid untuk selalu dapat nilai 100, tapi mendorong murid untuk berusaha (effort) dan bangkit saat gagal (resilience). Sekolah yang terlalu menekan kesempurnaan akademik tanpa memperhatikan well-being justru bisa jadi bumerang bagi mental anak.
Tips Praktis Menjadi Orang Tua yang “Cukup”
Gimana caranya mulai menerapkan ini sehari-hari? Berikut langkah simpelnya:
- Turunkan Ekspektasi, Naikkan Apresiasi Rumah yang sedikit berantakan karena mainan anak itu tanda ada kehidupan dan kreativitas, bukan tanda Parents malas. Makanan delivery sesekali karena Parents capek masak itu wajar. Berhenti membandingkan dapur kita dengan dapur influencer yang punya asisten rumah tangga lima orang.
- Izinkan Anak Mengalami Rasa Bosan dan Kecewa Jangan buru-buru menyodorkan gadget saat anak bilang “Bosan”. Jangan buru-buru beli es krim baru saat es krimnya jatuh. Biarkan mereka merasakan emosi tidak enak itu sebentar, lalu dampingi mereka untuk mengatasinya. “Yaah, jatuh ya es krimnya. Sedih ya? Nanti kita beli lagi minggu depan ya, sekarang minum air putih dulu.” Ini melatih toleransi frustrasi.
- “Me Time” Bukan Dosa Parents tidak bisa menuangkan air dari teko yang kosong. Untuk bisa sabar menghadapi anak, tangki emosi kita harus terisi. Jadi, kalau Parents butuh waktu 1 jam buat ngopi sendiri atau nonton drakor, lakukanlah tanpa rasa bersalah. Itu investasi supaya saat kembali ke anak, Parents sudah lebih fresh.
- Sering-sering Minta Maaf Normalisasikan kata maaf dari orang tua ke anak. Ini bukan menurunkan wibawa, tapi justru menaikkan respek. Anak belajar bahwa tanggung jawab itu penting.
Kesimpulan: Hadirlah, Itu Sudah Lebih dari Cukup
Menjadi Good Enough Parent pada akhirnya adalah tentang kehadiran (presence). Anak-anak tidak akan mengingat apakah lantai rumah selalu kinclong atau apakah bekal makan siang mereka selalu berbentuk karakter kartun yang lucu.
Yang akan mereka ingat adalah: Apakah orang tua saya ada saat saya sedih? Apakah mereka menerima saya apa adanya, bahkan saat saya gagal?
Kita sedang membesarkan manusia, bukan memprogram robot. Dan manusia itu tempatnya salah dan lupa. Jadi, mari kita rayakan ketidaksempurnaan kita. Tarik napas, peluk si Kecil, dan katakan pada diri sendiri: “Saya sudah melakukan yang terbaik hari ini, dan itu sudah cukup.”
Memilih partner pendidikan juga harus dengan prinsip yang sama. Carilah sekolah yang tidak hanya mengejar prestise, tetapi yang benar-benar peduli pada pembentukan karakter dan kebahagiaan anak. Jika Parents sedang mencari lingkungan pendidikan yang seimbang, hangat, dan mendukung potensi anak tanpa tekanan yang tidak perlu, Global Sevilla bisa menjadi pilihan tepat. Kami percaya bahwa pendidikan terbaik adalah yang memanusiakan proses belajar. Hubungi kami untuk diskusi lebih lanjut tentang masa depan buah hati Anda.
